Jumat, 22 Juni 2012

TATA BAHASA DALAM BAHASA INDONESIA


1.1  Pengertian Tata Bahasa
Tata bahasa merupakan suatu himpunan dari patokan-patokan dalam stuktur bahasa. Stuktur bahasa itu meliputi bidang-bidang tata bunyi, tata bentuk, tata kata, dan tata kalimat serta tata makna. Dengan kata lain bahasa meliputi bidang-bidang fonologi, morfologi, dan sintaksis (Keraf, 1994:27).
Tata bahasa adalah studi struktur kalimat, terutama sekali dengan acuan kepada sintaksis dan morfologi, kerapkali disajikan sebagai buku teks atau buku pegangan. Suatu pemberian kaidah- kaidah yang mengendalikan bahasa secara umum, atau bahasa- bahasa tertentu, yang mencakup semantik, fonologi, dan bahkan kerapkali pula pragmatic (Crystal 1987: 422).
            Dari penjelasan di atas dapat kita tarik kesimpulan bahwa:
  1. dalam arti sempit tata bahasa mencakup sintaksis dan morfologi
  2. dalam arti luas tata bahasa selain mencakup sintaksis dan morfologi, juga mencakup semantik, fonologi, dan pragmatik.
Dari sumber lain, kita dapati pula keterangan bahwa tata bahasa adalah suatu pemberian atau deskripsi mengenai struktur suatu menghasilkan kalimat-kalimat dalam bahasa tersebut. Biasanya juga turut mempertimbangkan makna-makna dan fungsi-fungsi yang dikandung oleh kalimat-kalimat tersebut dalam keseluruhan sistem bahasa itu. Pemberian itu mungkin atau tidak meliputi pemberian bunyi-bunyi suatu bahasa (Ricards [et al] 1987: 125).
Atau secara singkat kita dapati penjelasan bahwa tata bahasa (dalam teori TG) adalah seperangkat kaidah- kaidah leksikon yang memberikan pengetahuan (kompetensi) yang dimiliki oleh seorang penutur pembicara mengenai bahasanya (Richsrd [et al] 1987: 125).
1.2  Macam-Macam Tata Bahasa
1.    Tata Bahsa Tradisional
Linguistik modern awal mulai pada saat munculnya paham baru Ferdinand de Saussure. Dibalik itu, terbentang ke belakang kira-kira 2000 tahun masa tata bahasa tradisional. Tata bahasa tradisional adalah suatu istilah yang kerap kali digunakan untuk meringkaskan jajaran sikap-sikap dan metode-metode yang dijumpai pada masa studi gramatikal sebelum kedatangan/ munculnya ilmu linguistik. “Tradisi” yang dipermasalahkan itu telah berkisar sekitar 2000 tahun, Masa tersebut begitu panjang, dan menyangkut berbagai bahasa kuno, seperti Yunani, latin didunia barat, bahasa sangsekerta di India, bahasa Ibrani di timur tengah, Romawi kuno dan begitu pula karya- karya para pakar beserta para penulis Renaissance dan para pakar tata bahasa preskriptif abad ke-18. Pengajaran bahasa dikaitkan dengan pembicaraan dalam buku ini adalah bahasa Indonesia dan bahasa asing di Indonesia yang berasal dari barat, yakni bahasa Inggris, pengajaran bahasa Indonesia mendapat pengaruh dari bahasa Belanda yang juga berasal dari dunia barat.
Analisis tata bahasa tradisional mendasarkan pada kaidah bahasa lain terutama Yunani, Romawi, dan Latin. Semua mafhum bahwa karakteristiik bahasa Indonesia, misalnya, tidak sama dengan bahasa-bahasa tersebut. Bahasa Yunani, Romawi, dan Latin tergolong bahasa deklinatif, yaitu yang perubahan katanya menunjukkan kategori, kasus, jumlah, atau jenisnya (Kridalaksana,1984: 36), sedangkan bahasa Indonesia tergolong sebagai bahasa inflektif, yaitu perubahan bentuk katanya menunjukkan hubungan gramatikal (Kridalaksana, 1984: 75). Oleh karena itu, analisis yang demikian akan menjumpai berbagai kesulitan.
2.    Tata Bahasa Struktural
Tatabahasa struktural mendasarkan analisisnya pada karakteristik bahasa yang bersangkutan sebagaimana adanya bukan didasarkan pada kaidah bahasa lain. Dengan demikian, kajiannya bersifat deskriptif. Sesuai namanya, pengkajian tidak didasarkan pada nosi atau arti, tetapi pada struktur atau perilakunya dalam sruktur: fona dalam fonem, fonem dalam silabel, silabel dalam leksem, leksem dalam tagmem (frasa, klausa, kalimat). Untuk menggambarkan struktur tertentu, struktur tersebut ditempatkan pada kontinum struktur lain yang melingkupinya.
Simposium tata bahasa tentang kata majemuk pada 20 Oktober 1979 merumuskan simpulan, di antaranya sebagai berikut.
a)      Prinsip yang harus dipegang di dalam mengidentifikasikan apakah suatu konstruksi merupakan konstruksi majemuk atau tidak ialah bahwa konstruksi itu memperlihatkan derajat keeratan yang tinggi sehingga merupakan kesatuan yang tidak terpisahkan.
b)      Sebagai konstruksi yang tak terpisahkan, konstruksi majemuk berperilaku sebagai kata, artinya masing-masing konstituen konstruksi hilang otonominya. Hilannya otonomi itu berarti bahwa masing-masing konstituen tidak dapat dimodifikasikan secara terpisah, maupun di antaranya tidakdapat disisipkan morfem lain tanpa perubahan atas makna aslinya. (Parera, 1988: 117-118)
Rumusan simpulan tersebut dengan jelas menunjukkan penggunaan teori struktural dalam pengindentifikasian konstruksi majemuk seperti tersurat pada istilah (1)konstruksi, (2)kesatuan, (3)konstituen konstruksi, (4)derajat keeratan, dan (5)disisipi.
Bagaimanakah Ramlan dalam buku Sintaksis mengidentifikasi kalimat tanya? Kalimat tanya, menurut Ramlan (1981: 33), berpola intonasi [2] 3// [2] 3 2 Ú. Pola tersebut berbeda dengan pola kalimat berita [2] 3 // [2] 3 1 Ø, atau pola intonasi kalimat suruh 2 3 Ø atau 2 3 2 Ø (Ramlan, 1981: 32-45). Pengidentifikasian seperti itu menunjukkan bahwa nosi tidak lagi menjadi kerangka konsep struktural, melainkan struktur otonom satuan bahasa yang didesripsikanlah yang dijadikan pijakannya.
3.    Tata Bahasa Generatif
Arti tata bahasa generatif adalah bahwa bahasa adalah struktur pikiran manusia. Tujuan tata bahasa generatif adalah membentuk model lengkap bahasa terdalam ini (dikenal sebagai i-language). Model ini dapat digunakan untuk menjelaskan semua bahasa manusia dan memperkirakan ketatabahasaan dari ungkapan apapun (yang berarti memperkirakan apakah ungkapan ini terdengar benar oleh para penutur asli suatu bahasa). Pendekatan terhadap bahasa dirintis oleh Noam Chomsky. Kebanyakan teori generatif (meskipun tidak semuanya) menganggap bahwa sintaksis didasarkan pada struktur kalimat yang konstituen. Tata bahasa generatig berada diantara teori yang berfokus terutama pada bentuk kalimat, daripada fungsi komunikatifnya.
4.    Tata Bahasa Transformasi
Ahli linguistik yang cukup produktif dalam membuat buku adalah Noam Chomsky. Sarjana inilah yang mencetuskan teori transformasi melalui bukunya Syntactic Structures (1957), yang kemudian disebut classical theory. Dalam perkembangan selanjutnya, teori transformasi dengan pokok pikiran kemampuan dan kinerja yang dicetuskannya melalui Aspects of the Theory of Syntax (1965) disebut standard theory. Karena pendekatan teori ini secara sintaktis tanpa menyinggung makna (semantik), teori ini disebut juga sintaksis generatif (generative syntax). Pada tahun 1968 sarjana ini mencetuskan teori extended standard theory. Selanjutnya pada tahun 1970, Chomsky menulis buku generative semantics; tahun 1980 government and binding theory; dan tahun 1993 Minimalist program.
Setiap tata bahasa dari suatu bahasa, menurut Chomsky adalah merupakan teori dari bahasa itu sendiri; dan tata bahasa itu harus memenuhi dua syarat, yaitu:
1)   Kalimat yang dihasilkan oleh tata bahasa itu harus dapat diterima oleh pemakai bahasa tersebut, sebagai kalimat yang wajar dan tidak dibuat-buat.
2)    Tata bahasa tersebut harus berbentuk sedemikian rupa, sehingga satuan atau istilah yang digunakan tidak berdasarkan pada gejala bahasa tertentu saja, dan semuanya ini harus sejajar dengan teori linguistik tertentu.
Pengenalan transformasional salah satunya dilakukan oleh Samsuri pada dua bab terakhir buku Analisa Bahasa (1980) pada edisi kedua. Lewat makalah yang disajikan dalam berbagai kesempatan, khususnya Pertemuan Linguistik Lembaga Bahasa Atmajaya (PELLBA), Bambang Kaswanti Purwo ( dan juga Soenjono Dardjowidjojo) patut dicatat juga sebagai introduktor dan eksplorator transformasional dalam kajian bahasa Indonesia dan juga bahasa-bahasa nusantara. Misalnya, dalam Simposium Linguistik 1985 (embrio PELLBA) berapa teori mutakhir di bidang linguistik disajikan: “Aliran Transformasional 1957—1965” oleh Samsuri, “Perkembangan Aliran Transformasional 1965 – Kini” oleh Riga Adiwoso, “Teori Tagmemik” oleh Stephanus Djawanai, “Tatabahasa Relasional” oleh Bambang Kaswanti Purwo (Dardjowidjojo, 1987).
Terbitnya dua buku J.D. Parera pada 1988, yaitu Morfologi, dan Sintaksis semakin mempertegas kecenderungan kajian dengan landasan teori transformasional. Sebagai contoh penggunaan teori transformasi, Parera dalam salah satu babnya menguraikan secara transformasional kata petinju dan peninju sebagai berikut (Parera, 1988a: 28).
petinju = Nor + ber—Vd > pe – Vd
peninju = Nor + meN—Vd > peN -- Vd
Contoh tersebut menunjukkan bahwa dalam tata bahasa transformasional, struktur dalam (deep structure) ditransformasikan ke struktur luar (surface structure). Secara generatif transformasional kata, petinju dibentuk melalui verba bertinju, sedangkan kata peninju dibentuk melalui verba meninju. Jadi, pembentukan itu tidak langsung dari dasar tinju.
Penggunaan teori transformasional tersebut semakin tampak pada Tatabahasa Baku Bahasa Indonesia (TBBI) yang diterbitkan bersamaan dengan Kongres Bahasa V, pada 1988. Walaupun TBBI memperlihatkan keeklektisan teori-teori, namun transformasional cukup ambil peran. Perhatikanlah bagaimana TBBI menerangkan morfologi verba, nomina, ataupun adjektiva. Istilah ‘penurunan’ senantiasa digunakan untuk itu (Alwi, 1993: 144-163)
4.6.1 Penurunan Verba Taktransitif
4.6.1.1 Verba Taktransitif Asal
4.6.1.2 Penurunan Verba Taktransitif dengan meng-
4.6.1.3 Penurunan Verba Taktransitif dengan ber-
4.6.1.4 Penurunan Verba Taktransitif dengan ber--kan
4.6.1.5 Penurunan Verba Taktransitif dengan ber--an
4.6.1.6 Penurunan Verba Taktransitif dengan ter-
4.6.1.7 Penurunan Verba Taktransitif dengan ke--an
4.6.1.8 Penurunan Verba Taktransitif dengan Perulangan
Pada bab Nomina, Pronomina, dan Numeralia, khususnya penurunan nomina dengan per—an, misalnya, digunakanlah uraian dan contoh berikut (Alwi, 1993: 258-259)
“Nomina dengan per – an juga diturunkan dari verba, tetapi umumnya dari verba taktransitif dan berawalan ber-. Akan tetapi, ada pula nomina per – an yang berkaitan dengan verba meng- atau memper- yang berstatus transitif.
perjanjian ->berjanji
pergerakan -> bergerak
pergelaran -> menggelar
pertahanan -> mempertahankan
perlawanan -> melawan
permintaan -> meminta
5.    Tata Bahasa Transformasi Generatif
Dalam lingusitik, aliran transformasi generatif (TG) ialah satu aliran mazhab pengkajian bahasa yang telah dikemukakan oleh Noam Chomsky. Beliau merupakan seorang profesor lingustik yang menyumbangkan buah fikirannya di Massachusetts Institute of Technology. Aliran TG yang dikemukakan oleh Chomsky ini diperkenalkan olehnya melalui penerbitan sebuah monograf yang bertajuk Syntactic Structure, pada tahun 1957. Kemudian, teori TG ini diperbaik oleh Chomsky melalui bukunya, Aspect of the Theory of Syntax.
TG memberi tumpuan terhadap bidang sitaksis (ayat) serta mengutamakan bidang semantik(makna). Dasar utama teori ini ialah dengan menganggap bahawa setiap ayat yang dihasilkan sebenarnya mengandungi dua peringkat. Peringkat-peringkat tersebut ialah struktur dalaman dan struktur permukaan.
Struktur dalaman ialah struktur yang mengandungi ayat dasar atau ayat inti. Struktur permukaan pula ialah struktur yang telahpun mengalami perubahan daripada struktur dalamannya dan merupakan bentuk ayat yang dituturkan oleh seseorang penutur.
Mengikut hukum TG, struktur dalaman dan struktur permukaan diterbitkan oleh dua rumus tatabahasa. Rumus-rumus tersebut ialah Rumus Struktur Frasa (RSF) dan Rumus Transformasi. RSF akan membentuk ayat pada struktur dalaman, manakala Rumus Transformasi pula akan menerbitkan ayat pada peringkat permukaan. Ayat-ayat yang terhasil daripada kedua-dua bentuk tersebut biasanya tidak mempunyai persamaan. Ayat yang terhasil daripada struktur dalaman akan menjadi input kepada pembentukan ayat pada peringkat permukaan.
6.    Tata Bahasa Tagmemik
Pelopor teori Tagmemik adalah Prof. Kenneth Lee Pike seorang pendeta Kristen Protestan dan seorang ahli bahasa ulung yang ikut mendirikan dan mengembangkan Summer Institute of Linguistics, suatu organisasi yang bergerak di bidang penerjemahan Injil. Sebagai seorang pendeta Kristen, Pike membaktikan hidupnya untuk kegiatan pengajaran dan penyebaran Injil serta penerjemahan Injil ke dalam bahasa-bahasa yang belum pernah mengenal kitab ini. Sebagai seorang ilmuwan, Pike membaktikan dirinya di bidang penelitian dan pengembangan ilmu bahasa (Lembaga Bahasa Universitas Atma Jaya, 1987:71). Teori Tagmemik berkembang dari sebuah teori yang lebih komprehensif tentang bahasa dalam ruang lingkup perilaku manusia yang dikembangkan Pike antara tahun 1954-1960.
Teori Tagmemik melakukan studi kebahasaan dengan memandang pentingnya slot-slot yang fungsional dan menggabungkan elemen yang bisa menduduki slot itu ke dalam unit-unit sintaksis yang lebih luas (Wahab, 1990: 13).
Istilah tagmem merupakan suatu kesatuan dasar bahasa yang terdiri dari jalur fungsional dan suatu daftar butir-butir yang saling dapat ditukarkan yang dapat mengisi lajur itu. Tagmem adalah suatu kesatuan, sejajar dengan fonem dan morfem dalam tri-hirarki ketatabahasaan fonologi, leksikon, dan tata bahasa. Ketiga kesatuan dasar itu diperlihatkan sebagai struktur tritunggal dalam karyanya yang berjudul “Language as Particle, Wave, and Field” pada tahun 1959 (Tarigan, 1989: 15-16).
Penamaan Teori Tagmen ini berangkat dari konsep tagmen. Tagmen adalah bagian dari konstruksi gramatikal dengan empat macam kelengkapan spesifikasi ciri, yakni: slot, peran, dan kohesi (Soeparno, 2002:58). Atau juga tagmen adalah Tagmem adalah tempat dalam struktur (sintaksis dan morfologis) bersama dengan kelas formal elemen-elemen yang menduduki tempat tersebut (yang sering disebut dengan istilah slot dengan pengisinya), “Korelasi antara sebuah fungsi gramatikal atau slot dan sebuah kelas dari unsur-unsur yang bisa saling menggantikan yang terdapat dalam slot tersebut. Tagmem mempersatukan konsep-konsep tradisional seperti subyek, predikat, obyek, komplemen, lokatif, temporal, penerima, pelaku, dengan konsep kelas seperti nomina, verba, pronomina, adjektifa, adverbia, dan sebagainya.
Pada garis besarnya, teori tagmemik mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
·                 · Slot
Slot adalah suatu ciri tagmen yang merupakan tempat kosong di dalam struktur yang harus diisi oleh fungsi tagmen. Di dalam tataran klausa fungsi tagmen tersebut berupa subjek, predikat, objek, dan adjung. Pada tataran lain umumnya fungsi tagmen berupa inti dan luar inti. Pada teori tradisional dan struktural, slot, kelas, peran, dan kohesi.
·                 · Kelas
Kelas adalah suatu ciri tagmen yang merupakan wujud nyata dari slot. Wujud nyata slot itu adalah berupa satuan-satuan lingual seperti morfem, kata, frasa, klausa, alinea, monolog, dialog, dan wacana. Kelas dapat dipecah lagi menjadi kelas yang lebih kecil (subkelas). Kelas frasa dapat dipecah menjadi frasa benda dan frasa kerja. Kelas klausa dapat dipecah menjadi klausa transitif, klausa intransitif, klausa ekauatif, dan sebagainya.
·                 · Peran (Role)
Peran adalah ciri atau benda penanda yang merupakan pembawa fungsi tagmem. Memang agak susah untuk membedakan fungsi dan peran. Pelaku dan penderita adalah nama peran. Pelaku dan penderita tersebut dapat menjadi pembawa fungsi subjek. Dengan demikian ada subjek dengan peran penderita.
·                 · Kohesi
Kohesi adalah ciri atau penanda tagmem yang merupakan pengontrol hubungan antartagmem. Pengontrol hubungan yang hampir terdapat pada semua bahasa adalah kaidah ktransitifan pada kluasa yang berlaku untuk klausa transitif, klausa instransitif dan klasa ekuatif (Soeparno, 2002: 60-66).
Di dalam rumus keempat ciri atau penanda itu ditempatkan pada sudut penempatan garis. Sudut kiri atas ditempati oleh slot, sudut kanan ditempati oleh kelas, sudut kiri bawah ditempati oleh peran, dan sudut kanan bawah ditempati oleh kohesi.
Bahasa memiliki hierarki. Ada struktur yang lebih besar daripada kalimat, adapula yang lebih kecil dari kalimat. Namun, meskipun bahasa mengenal hierarki, hubungan di antara unsur-unsur bahasa bukanlah hubungan yang terlepas, melainkan menyeluruh. Unsur-unsur tersebut memang dapat diteliti secara terpisah, namun bukan berarti masing-masing unsur tidak berkaitan. Sebagai contoh, pembahasan mengenai sintaksis akan menemukan kendala tanpa menyertakan aspek morfologis. Unsur-unsur tersebut merupakan poin yang menguntungkan bagi peneliti untuk mencapai keseluruhan yang hendak dicapai.
Menurut teori ini ada tiga macam hierarki linguistik yaitu: 1) hierarki referensial, 2) hierarki fonologis, 3) hierarki gramatikal. Hierarki fonologis adalah tataran dalam kawasan bunyi bahasa. Hierarki gramatikal adalah tataran dalam kawasan tata bahasa. Morfem dan sintaksis tercakup dalam tataran ini, namun menurut teori ini tidak ada batas lagi antara morfologi dan sintaksis (Soeparno, 2002: 62).
Pemerian bahasa mempunyai tiga tuntutan utama; pemerian bahasa harus menggarap bunyi-bunyi, bentuk-bentuk, dan aturan bentuk-bentuk dalam kalimat. Masalah pemerian bahasa adalah memisahkan kesatuan-kesatuan bunyi, yang digunakan untuk membentuk kesatuan-kesatuan arti referensi, yang kemudian disesuaikan kepada rencana-rencana bahasa (Tarigan, 1989: 192)
Model Tagmemik menggarap bunyi, bentuk, dan hirarki ketatabahasaan fonologi, leksikon, dan tata bahasa. Ketiga hirarki ini merupakan sistem-sistem yang bersifat semi-otonom tetapi saling mengisi (Tarigan, 1989: 192)
7.    Tata Bahasa Pedagogik
Tata bahasa pedagogis atau pedagogical grammar adalah suatu deskripsi gramatikal mengenai suatu bahasa yang diperuntukan bagi maksud- maksud pedagogis, seperti pengajaran bahasa, rancang- bangun, silabus, atau persiapan materi/ bahan pengajaran. Suatu tata bahasa pedagogik dapat saja didasarkan:
a)      analisis gramatikal dan deskripsi suatu bahasa
b)      teori gramatikal tertentu, seperti tata bahasa transformasi generatif
c)      studi atau telaah mengenai masalah- masalah gramatikal para pembelajar (analisis kesalahan)
d)     atau pada gabungan/ ombinasi berbagai pendekatan (Richards [et al] 1987: 210)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar